sepotong cerita sehabis malam tahun baru

we are not poor at all

we are not poor at all

Pagi itu , saat sang surya masih terlelap dalam selimut kabut pagi yang dirajut oleh hujan semalam, sang fajar pun seperti nya enggan membangunkan ayam jantan; Paijo seperti biasanya sudah bersiap keluar dari bilik nya. Entah kenapa pagi itu ia bangun dengan segarnya seakan hendak menyongsong rejeki besarnya hari ini. Dengan sigap diraih nya bakul dan pengais nya yang digantung di dinding anyaman bambu bilik seadanya.

Sejenak ditolehnya Ainun, putri nya , yang masih tertidur berselimutkan sarung lusuh istrinya;menggulung badan mungilnya seperi kucing tidur. Terbesit dalam benaknya , ah  ..semoga rejeki ku baik hari ini.. diam-diam dia tersenyum sendiri. Sangat jelas ia menyembunyikan sebuah kejutan besar buat bidadari nya.

Istrinya yang sudah ia ‘nikahi’, tepatnya sudah hidup bersamanya sejak pergi dari kampung halaman mereka, sekitar 3 tahun lalu, menyibukkan kedua tangannya dengan menghidupkan pengapian kecil di sudut bilik kecil itu. Entah apa yang ada di pikirannya, hendak mengusir dingin fajar jahanam ,atau hendak memasak sesuatu buat meredam suara-suara mengganggu dari  perutnya. Paijo, tak banyak menanyakan kepada Inah sang istri yang tetap setia menemaninya selama ini. Padahal sepengetahuan Paijo, kendi beras sudah lama tidak pernah terisi barang seperempatnya saja, pun kaleng penyimpanan kopi dan gula sudah lama sekali teronggok di lantai tanah; malahan sering ditendang-tendang Ainun putrinya yang baru mulai bisa belajar jalan. Ah.. istriku, aku lelaki yang beruntung, jerit hatinya tertahan.

Dengan langkah cepat bak sedang dikejar kamtib, Paijo tergesa mengejar truk pengangkut sayur yang saban fajar melintas dekat pemukimannya. Hoop.. sekali tangan kekarnya mengelayut ke pintu belakang truk, dan dalam sekejap ia sudah berada di dalam truk tersebut. Si sopir sudah paham dengan kebiasaan Paijo itu. Ia adalah sopir angkutan sayur yang setiap fajar mengantar sayur ke pasar induk di kota besar ini.

Udara masih sangat dingin fajar itu, namun tak sebatang puntung rokok pun dapat ditemui Paijo di jalanan sekedar untuk menghangatkan badannya. Dengan tekun dipungutinya kaleng-kaleng dan plastik-plasik botol sampah dari pesta besar akhir tahun semalam di sekitaran taman kota, di setiap lorong yang dia lewati. Seperti nya tangan dan pengais Paijo dilengkapi sensor yang canggih, sebelum kokokan ayam jantan terdengar , bakul nya hampir terisi penuh dengan sampah-sampah. Melengos ke belakang, Paijo melirik bahwa bakulnya hampir penuh, maka dengan riang nya ia bersiul. Entah lagu apa yang di’siul’kan nya, mungkin sepotong kenangan dari tanah asalnya. Sambil melepas lelah Paijo bersandar pada bakulnya duduk ditengah gundukan tanah bekas galian kabel telepon. Ia termenung sekaligus takjub, tak biasanya sepagi itu bakul nya hampir tumpah isinya.

Jalanan masih sangat lengang pagi itu, serasa ia adalah satu-satunya penghuni kota sebesar ini. Sangat beda dari hari-hari biasa saat Paijo dan teman seprofesinya yang harus setiap saat awas matanya sambil mengais rejeki. Apa yang mereka takutkan tak tampak walau hanya bayangan nya saja. Ya.. petugas kamtib tentunya.

Sambil melamun, pandangan nya tertumbuk pada sesuatu benda dengan terang menyala berwarna kuning terapung-apung di sebuah legokan lubang jalan  yang terisi air hujan. Mendekat lah Paijo, oh ternyata itu adalah bebek-bebekan karet dengan warna kuning menyala. Diraihnya benda kecil dari karet itu, tett, terdengar bunyi dari benda itu. Paijo tergelak dibuatnya, hatinya menari-nari dipenuhi kegembiraan. Ini pasti akan menjadi kejutan buat Ainun bisiknya. Dimasukkannya bebek-bebekan itu ke dalam kantung celananya.

Tak sabar Paijo hendak pulang ke bilik nya. Setengah berlari ia terus menyusuri jalanan sepi kota pagi itu. Plash, plash , genangan air dilibasnya bak pelari, sesekali  ia memegangi kantung celananya, khawatir bebek-bebekan nya jatuh. Untunglah semalam kantung celana itu sudah ditambal  Inah.

Selemparan batu dari biliknya, Paijo seolah hendak terbang segera menemui Ainun anak semata wayangnya. Memang Ainun bukan anak satu-satunya pasangan Paijo dan Inah, dua kakak Ainun sudah tiada sebelum mereka sempat belajar merangkak,entah terserang penyakit apa keduanya hampir berurutan meninggal dunia;sedangkan adik laki-laki Ainun belum sempat diberikan nama oleh mereka. Inah mengalami kelahiran prematur dini saat usia hehamilannya belum menginjak enam bulan.

Matahari sudah mampir di atas kepala saat Paijo masuk ke biliknya. Dilemparnya bakul rejekinya ke tanah; matanya mengelilingi setiap sudut bilik itu mencari sosok mungil putri satu-satunya. Namun sosok Ainun tak ditemukannya pun istrinya. Arang kayu bekas pengapian yang tadi pagi istrinya nyalakan sudah tak mengeluarkan asap lagi pun arang nya sudah dingin.

Sambil memegang bebekan karet Paijo lari keluar biliknya meneriakkan nama anaknya. “Ainun, dimana kamu, ini Bapak bawa in kamu mainan”. Tak terasa Paijo sudah berada di luar daerah pemukiman nya. Terlihat iring-iringan teman Paijo, ada Tarman kribo dari Banyuwangi, Si jambang dari Sidoarjo,Bujang dari Palembang,dan banyak lagi yang Paijo kenal hanya tampang nya namun tidak tahu nama dan asal-usulnya, dan juga beberapa perempuan seumuran Inah ’istri’ dari teman –teman seprofesinya tersebut , ah ternyata Inah juga ada diantara mereka.

“Inah.. Inah.. “,teriak Paijo sekencang nya, sambil melambai-lambaikan bebek-bebekan karet di udara. Namun semakin dekat , tak terlihat Inah bersama dengan Ainun anak mereka. Inah tampak menerawang menatap hampa di terik nya siang itu. Sarungnya kotor terkena bekas lumpur tanah liat yang mulai mengering. Begitu juga beberapa laki-laki teman Paijo dan perempuan-perempuan itu. “Mana Ainun ?”, tanya nya. “Mana bidadari kecil kita?” . Sarjo yang teman seasal dengan Paijo memeluk Paijo dengan eratnya, “ anak mu baru saja kami kuburkan  tadi. Iklaskan lah dia “. Saidah istri Sarjo memapah tubuh Inah yang hampir oleng masuk ke bilik nya. Tercekat tak bisa berkata-kata, Paijo matanya nanar-liar bak kemasukan setan, berlarian tak tentu arah mencari anaknya Ainun, tangannya masih erat menggenggam bebekan karet tersebut sambil sesekali dibunyikan nya tett..tett.teett. Teman Paijo terenyuh melihat kelakuan nya yang di luar batas normal untuk ukuran orang biasa. Normal? Orang biasa? Apakah Paijo dan mereka di sini masih bisa di golongkan sebagai manusia biasa yang layak hidup normal seperti kebanyakan dari Anda?

(sepotong cerita sehabis malam tahun baru; SUATU TEMPAT, SUATU MASA)

Repost dari blog 

Advertisements

One thought on “sepotong cerita sehabis malam tahun baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s