DEATH PENALTY in INDONESIA FOR DRUGS TRAFFICKING – une perspective humaniste

A few months backwards, Indonesia government under President Joko Widodo has will to upholds the law on drugs abuse, especially the implementation of death penalty to the drugs dealers and trafficking. In last January 2015, Indonesia authorities has done its commitment ,on 18th  2015 , 6 were executed, one of them is Indonesian, and 5 others were foreigners.

Death penalty on law perspective in Indonesia has its positive law power according to Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkoba. The death penalty is done only if after all law efforts has been done (judicial review or PK) and  the right for the convicts to appeal for clemency from the President Joko Widodo    was rejected.

In Indonesia, the result on the execution was tremendously  arousing pro and counter reaction amongst Indonesian people massively on internet user. The next execution will be on this April on Nusakambangan prison. Still there is one Indonesian among ten to be executed this time. It shows that Indonesian government has great commitment to eliminate drugs abuse in Indonesia.

This good deed has been wrongly assumed as violation of human rights by the nations which its citizen executed. This diplomatic ‘chaos’ has spread the words on world news lately. The neighbor country Australia has strongly rejected the death penalty and has been causing ‘hatred’ amongst Indonesian after Tony Abbott’s speech  on Australia donation  for Aceh’s earthquake on 2004. Even United Nations Ban Ki-Moon also ban the death penalty.

We must agree on one thing, drugs abuse in worldwide has caused many deaths of young generation, a generation lost for a nation. Anggun C an Indonesian artist  @Anggun_Cipta on April 24th 2015 has tweets “An eye for an eye makes the whole world blind.” – Mahatma Gandhi. Death penalty is not a solution, it’s an act of vengeance. She also tweets her support on French Serge Atlaoui – Ce samedi 25 avril à 15h, place Edmond Michelet, à côté de Beaubourg, venez avec moi à la marche de solidarité pour #SergeAtlaoui. WE Indonesian truly regret to hear that from you.


 

Review

Indonesia seolah telah menjadi target dari pemasok narkoba global, dengan ditemukannya pengiriman dalam jumlah besar dan massive. Tak henti-henti nya berbagai modus dan cara dilakukan demi dapat memasukkan barang haram tersebut ke Indonesia. Ini mungkin hanyalah puncak dari sebuah gunung es yang tampak ke permukaan. Banyak nya celah dan pintu masuk di seluruh Indonesia telah menjadikan Indonesia pasar yang menarik buat pemasok global.

Tak dapat dipungkiri juga bahwa faktor ekonomi mau tak mau ikut bermain di dalamnya. Peredaran uang dalam jumlah besar seolah menjadi magnet bagi siapa saja untuk ikut berputar di dalam nya; mulai dari transporter yang diiming-imingi sejumlah uang, pengedar kelas kakap, pengedar kelas teri, bahkan beberapa oknum hukum pun tak dapat lepas dari permainan ini. Bahkan kini disinyalir sudah mulai menjamah target pemakai anak-anak. Sungguh tragis. Para pemakai di Indonesia biasanya bermula dari pengedar kecil yang didorong oleh kebutuhan ekonomi dan disokong lingkungan yang kondusif. Pemakai inilah yang juga menjadi pengedar yang merupakan ‘sales’ terakhir dari siklus peredaran narkoba di Indonesia. Mereka bergerak di kampung kumuh , kampus-kampus, perkantoran, dan lingkup sosial yang lebih luas dan tinggi. Peran pemerintah dalam memberikan rehabilitasi bagi pemakai narkoba sudah sangat tepat. Namun juga perlu kiranya dipikirkan jalan keluar secara ekonomi, bagaiman memutus rantai peredaran dari ‘sales’ ini; yaitu dengan memberikan efek sosial ekonomi yang benar-benar menyentuh akar permasalahan mereka. Pemerintah harus segera menggelontorkan dana APBN untuk pembangunan pada awal-awal tahun anggaran guna menciptakan trigger ekonomi baik secara langsung maupun tak langsung di masyarakat. Proyek-proyek padat karya baik di infrastruktur maupun di sektor pertanian harus diintensifkan secara merata di wilayah-wilayah yang terkena imbas luar biasa turunnya harga komoditi, seperti di daerah penghasil karet alam, penghasil sawit dll. Merekalah ujung tombak benteng pertahanan Indonesia dari serangan sindikat narkoba global yang bahkan sekarang ini sangat terorganisasi dan terproteksi.

Bagi negara yang warga negara nya tereksekusi mati kasus narkoba, bolehlah mereka bercermin diri. Seolah satu nyawa warga negara nya lebih berharga dari ribuan bahkan jutaan korban akibat peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Bila kita ingin benar-benar menerima tawaran barter seperti yang pernah diajukan Julie Bishop, oke, bagaimana jika pemerintah Indonesia pun berhak mengajukan tawaran barter dengan negara tersebut.

 Untuk setiap gram narkoba yang dibawa masuk ke wilayah Indonesia maka negara yang warga negara nya terbukti dan telah melewati proses hukum yang benar dan telah mendapatkan hak-hak nya secara hukum di Indonesia dan  di vonis hukuman mati maka Indonesia berhak meminta hanya 1 (satu) meter persegi saja wilayah negara tersebut Jika dapat dipenuhi maka layak dan terhormat bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan barter. Jika tidak dapat dipenuhi, maka adalah hak dan kewenangan Indonesia untuk menjalankan hukum di wilayah Indonesia tanpa campur tangan dan ancaman dari pihak manapun. Sebagaimana tanah adalah harta negara yang tak dapat diperbarterkan dengan apa pun, apalagi kemaslahatan warga negara yang harus diutamakan oleh negara.


Rafly Azis – Indonesian correspondent – Toulosse

25 avril 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s