r E V O L u t i o n

https://www.change.org/p/joko-widodo-listrik-murah-untuk-rakyat-dan-industri-di-indonesia?recruiter=124015835&utm_source=share_petition&utm_medium=facebook&utm_campaign=autopublish&utm_term=des-lg-share_petition-reason_msg


 

Advertisements

Are you on “Tsu” yet? Its a new social media platform that pays you for creating and sharing content! Millions of people have already joined, its just like Facebook, it takes seconds to join, and even easier to use! And best of all you can reach 100% of your friends and audience, and NO Censorship. You can only join by invite and this is an invitation from us at EMPOWER INDONESIA directly to you. Click here to join! and be sure to Follow us too.

RUBBER-BASED RAILROAD TIE – SUSTAINABLE AND ECONOMICAL FOR INDONESIA

railroad tie

railroad tie

Plastic/rubber

In more recent times, a number of companies are selling composite railroad ties manufactured from recycled plastic resins,[6] and recycled rubber. Manufacturers claim a service life comparable with wooden ties, and that the ties are impervious to rot and insect attack,[7][8][9] and can be modified to provide additional lateral stability[7] while otherwise exhibiting properties similar to their wooden counterparts in terms of damping impact loads and sound absorption. Dimples can be added on the sides and bottom the better to grip the ballast.

Aside from the environmental benefits of using recycled material, plastic ties usually replace timber ties soaked in creosote, the latter being a toxic chemical,[10] and are themselves recyclable.[7] Plastic/Rubber composite ties are used in other rail applications such as underground mining operations.[11]

In 2009, Network Rail announced that they were to begin replacing wooden ties by recycled plastic ones made by I-Plas ltd of Halifax, Yorkshire;[12] but the I-Plas went into insolvency in October 2012.[13]

The Cable TV series Factory Made has a segment on the manufacture of plastic ties.[14]

In 2012, New Zealand ordered a trial batch of “EcoTrax” brand recycled composite ties from Axion for use on turnouts and bridges.[15][16]

— from wikipedia.

 

DEATH PENALTY in INDONESIA FOR DRUGS TRAFFICKING – une perspective humaniste

A few months backwards, Indonesia government under President Joko Widodo has will to upholds the law on drugs abuse, especially the implementation of death penalty to the drugs dealers and trafficking. In last January 2015, Indonesia authorities has done its commitment ,on 18th  2015 , 6 were executed, one of them is Indonesian, and 5 others were foreigners.

Death penalty on law perspective in Indonesia has its positive law power according to Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkoba. The death penalty is done only if after all law efforts has been done (judicial review or PK) and  the right for the convicts to appeal for clemency from the President Joko Widodo    was rejected.

In Indonesia, the result on the execution was tremendously  arousing pro and counter reaction amongst Indonesian people massively on internet user. The next execution will be on this April on Nusakambangan prison. Still there is one Indonesian among ten to be executed this time. It shows that Indonesian government has great commitment to eliminate drugs abuse in Indonesia.

This good deed has been wrongly assumed as violation of human rights by the nations which its citizen executed. This diplomatic ‘chaos’ has spread the words on world news lately. The neighbor country Australia has strongly rejected the death penalty and has been causing ‘hatred’ amongst Indonesian after Tony Abbott’s speech  on Australia donation  for Aceh’s earthquake on 2004. Even United Nations Ban Ki-Moon also ban the death penalty.

We must agree on one thing, drugs abuse in worldwide has caused many deaths of young generation, a generation lost for a nation. Anggun C an Indonesian artist  @Anggun_Cipta on April 24th 2015 has tweets “An eye for an eye makes the whole world blind.” – Mahatma Gandhi. Death penalty is not a solution, it’s an act of vengeance. She also tweets her support on French Serge Atlaoui – Ce samedi 25 avril à 15h, place Edmond Michelet, à côté de Beaubourg, venez avec moi à la marche de solidarité pour #SergeAtlaoui. WE Indonesian truly regret to hear that from you.


 

Review

Indonesia seolah telah menjadi target dari pemasok narkoba global, dengan ditemukannya pengiriman dalam jumlah besar dan massive. Tak henti-henti nya berbagai modus dan cara dilakukan demi dapat memasukkan barang haram tersebut ke Indonesia. Ini mungkin hanyalah puncak dari sebuah gunung es yang tampak ke permukaan. Banyak nya celah dan pintu masuk di seluruh Indonesia telah menjadikan Indonesia pasar yang menarik buat pemasok global.

Tak dapat dipungkiri juga bahwa faktor ekonomi mau tak mau ikut bermain di dalamnya. Peredaran uang dalam jumlah besar seolah menjadi magnet bagi siapa saja untuk ikut berputar di dalam nya; mulai dari transporter yang diiming-imingi sejumlah uang, pengedar kelas kakap, pengedar kelas teri, bahkan beberapa oknum hukum pun tak dapat lepas dari permainan ini. Bahkan kini disinyalir sudah mulai menjamah target pemakai anak-anak. Sungguh tragis. Para pemakai di Indonesia biasanya bermula dari pengedar kecil yang didorong oleh kebutuhan ekonomi dan disokong lingkungan yang kondusif. Pemakai inilah yang juga menjadi pengedar yang merupakan ‘sales’ terakhir dari siklus peredaran narkoba di Indonesia. Mereka bergerak di kampung kumuh , kampus-kampus, perkantoran, dan lingkup sosial yang lebih luas dan tinggi. Peran pemerintah dalam memberikan rehabilitasi bagi pemakai narkoba sudah sangat tepat. Namun juga perlu kiranya dipikirkan jalan keluar secara ekonomi, bagaiman memutus rantai peredaran dari ‘sales’ ini; yaitu dengan memberikan efek sosial ekonomi yang benar-benar menyentuh akar permasalahan mereka. Pemerintah harus segera menggelontorkan dana APBN untuk pembangunan pada awal-awal tahun anggaran guna menciptakan trigger ekonomi baik secara langsung maupun tak langsung di masyarakat. Proyek-proyek padat karya baik di infrastruktur maupun di sektor pertanian harus diintensifkan secara merata di wilayah-wilayah yang terkena imbas luar biasa turunnya harga komoditi, seperti di daerah penghasil karet alam, penghasil sawit dll. Merekalah ujung tombak benteng pertahanan Indonesia dari serangan sindikat narkoba global yang bahkan sekarang ini sangat terorganisasi dan terproteksi.

Bagi negara yang warga negara nya tereksekusi mati kasus narkoba, bolehlah mereka bercermin diri. Seolah satu nyawa warga negara nya lebih berharga dari ribuan bahkan jutaan korban akibat peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Bila kita ingin benar-benar menerima tawaran barter seperti yang pernah diajukan Julie Bishop, oke, bagaimana jika pemerintah Indonesia pun berhak mengajukan tawaran barter dengan negara tersebut.

 Untuk setiap gram narkoba yang dibawa masuk ke wilayah Indonesia maka negara yang warga negara nya terbukti dan telah melewati proses hukum yang benar dan telah mendapatkan hak-hak nya secara hukum di Indonesia dan  di vonis hukuman mati maka Indonesia berhak meminta hanya 1 (satu) meter persegi saja wilayah negara tersebut Jika dapat dipenuhi maka layak dan terhormat bagi pemerintah Indonesia untuk melakukan barter. Jika tidak dapat dipenuhi, maka adalah hak dan kewenangan Indonesia untuk menjalankan hukum di wilayah Indonesia tanpa campur tangan dan ancaman dari pihak manapun. Sebagaimana tanah adalah harta negara yang tak dapat diperbarterkan dengan apa pun, apalagi kemaslahatan warga negara yang harus diutamakan oleh negara.


Rafly Azis – Indonesian correspondent – Toulosse

25 avril 2015

M O T I V A T I O N !

NEED SOME MOTIVATION ?

BUTA POLITIK

1937435_467272136743220_6545250909203983376_nBUTA POLITIK

EQUALITY

1512720_669069496449645_1989903882_n

AYO BERGERAK !

Indonesia, negeri besar yang hendak melaju bak shinkansen tapi apa daya lokomotif nya masih  jaman Belanda. Mungkin itulah gambaran Indonesia pada saat ini, dimana pucuk pimpinan hendak melaju bak terbang sedangkan lokomotif sumber daya manusia dan nilai-nilai lama masih betah disandang oleh sebagian besar anak negeri. Nilai-nilai primordial seperti penajaman-penajaman pada nilai kebersamaan yang salah arah dan salah urus; yang mana telah ditunjukkan dengan telanjang kepada publik oleh beberapa institusi baik pemerintah maupun non pemerintah, semakin menunjukkan betapa kekanak-kanakannya para orang besar yang mengaku-aku patut mendapat status terhormat tersebut.

Perilaku one man show pun kerap dibawa ke pentas publik, yang semakin hari semakin mempertontonkan ketidaksiapan mental untuk dapat saling berbagi dan bekerjasama. Bukankah Indonesia TIDAK hanya ada untuk saat ini saja, Ia patut hadir di setiap naskah sejarah dunia dan semestinyalah patut tertulis dengan tinta emas!

Cukup ! Wahai yang diberi mandat, siapapun Anda, dimanapun posisi Anda, cukuplah berpikir Indonesia ‘baik-baik saja’. Tak tahukah kalian betapa rakyat negeri ini yang dengan tetap berpengharapan baik terus bertahan  hanya untuk hidup sehari-hari saja. Kita sedang ‘sakit’, sakit kronis yang lama hanya diberi obat ‘instant’ .

Cobalah turun ke pasar becek,ke desa yang diterpencilkan, ke kawasan kumuh yang biasanya sering disulap menjadi bak putri cantik hanya saat kunjungan kerja para petinggi negeri, lihatlah daerah pertanian dan perkebunan yang kini ditelantarkan lantaran sudah tak dapat menjadi tumpuan hidup, lihatlah juga wajah-wajah anak kecil yang gigih berjuang hanya untuk sampai ke sekolah ,hiruplah aroma pekerja pasar,buruh pabrik. Itulah Indonesia sejatinya. Ia dihidupi dari yang kecil, dari setiap gerak mereka Indonesia memulai fajarnya. Tanpa mereka, semua gerak Indonesia akan terasa kaku walaupun dengan  koreografi ekonomi mumpuni  dan didanai dengan beribu triliun sekalipun. Hingga akhirnya bukan tak mungkin, semua sendi kaku tadi akan benar-benar sakit. Ya, kita sedang sakit!

Dihidupi dari yang kecil ,Indonesia akan baik-baik saja, mendapat teman di pergaulan dunia,diakui sebagai negara dengan pluralisme yang terjaga secara alamiah; sudah sepatutnya pemerintah Indonesia mengalokasikan segenap daya upaya untuk memajukan yang kecil. Merekalah unit-unit mesin terkecil yang telah menjalankan lokomotif Indonesia dengan baik. Kini saatnya melakukan maintenance pada mereka; berilah subsidi yang tepat sasaran,permudah akses ke institusi permodalan, perluas pasar bagi produk mereka, berilah akses yang seluas-luasnya pada kesehatan,pendidikan, dan layanan publik lainnya. Niscaya, dari merekalah Indonesia akan melesat jauh melebihi shinkansen manapun di dunia.

AYO BERGERAK !

P R E C I O U S

她是宝贵的因为她给了我平和的心

 P R E C I O U S !